Ciri, Kandungan dan Manfaat Garam Himalaya untuk Kesehatan Ibu Hamil Menyusui MPASI

Kalau kamu ingat asin maka yang Kamu ingat tentunya adalah garam. Garam, sudah menjadi bagian dari hidup kita selama puluhan tahun. Biasanya kita konsusmsi lewat makanan seperti sup, keripik, ayam goreng, sambal, dan lain sebagainya. Salah satu jenis garam yang lagi populer atau hits di kalangan umat manusia adalah garam himalaya atau himalayan salt. Garam ini di klaim memiliki benefit yang luar biasa pada manusia terutama untuk Ibu hamil menyusui dan mpasi bayi. Bahkan di juluki sebagai garam paling murni di dunia. Wow! Seperti biasa, pertanyaan yang muncul adalah “emang iya gitu?” Sebelum masuk ke soal garam himalaya, kita harus bedah dulu apa itu garam. Supaya jelas dan detil bahasannya. Garam menurut istilah (yang sering digunakan) merujuk pada senyawa sodium klorida atau natrium klorida berbentuk kristal yang digunakan untuk memberi rasa asin pada makanan. Kalau definisi secara kimia, garam adalah produk atau senyawa dari hasil reaksi antara asam dengan basa yang disebut neutralisation reaction. Dulu waktu SMA, kita mungkin pernah melakukan percobaan di pelajaran kimia mereaksikan asam kuat HCL dengan basa kuat NaOH, hasilnya jadi NaCl dan H2O. Jadi netral.
Manfaat Kandungan Garam Himalaya

Kenapa Disebut Garam Himalaya?

Sebenernya ini garam nggak ditambang di pegunungan himalaya. Lebih tepatnya di daerah dekat himalaya, yaitu Khewra, Pakistan. Jadi orang bukan naik gunung himalaya dulu terus dapat garam. Menurut sejarah, garam himalaya mulai ditambang sekitar tahun 1200-an. Sekitar tahun 1894, seorang insinyur tambang dari inggris membuat terowongan untuk memudahkan kegiatan pertambangan. Jadi, sebenernya si garam himalaya ini bukan hal yang baru ditemukan sekarang-sekarang.

Nutrisi Kandungan Garam Himalaya?


bahaya garam himalaya

Ada sumber yang mengatakan bahwa garam himalaya mengandung 84 jenis mineral. Kenapa garam Himalaya warnanya pink? karena garam himalaya punya beberapa mineral lain. Dan inilah yang biasa di promosikan. Padahal kalau melihat kandungnan, seharusnya bukan cuma berapa banyak jenis mineralnya. Kita harus tahu apa saja mineralnya dan berapa banyak dosis tiap mineralnya dari garam himalaya tersebut. Banyak orang yang malah tidak tahu apa saja kandungannya. Ketika dicek sumber yang menyebutkan ada banyak mineral yang terkandung di garam himalaya (1), hanya beberapa saja yang memang punya peran pada tubuh manusia. Itupun dalam dosis yang sangat kecil sekali sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan harian. Bahkan bisa dianggap tidak ada kandungan mineral tersebut. Beberapa justru tidak dibutuhkan, berbahaya (seperti merkuri, arsenik, dan timah) atau malah radioaktif (plutonium, uranium, dan radium). Lucunya malah disebutkan ada unsur technetium dan promethium dimana unsur ini sebnernya buatan manusia.

Manfaat Bahaya Garam Himalaya?

Faktanya, garam himalaya ini 97% adalah sodium klorida atau natrium klorida. Jadi, sama aja dengan garam yang biasa kita konsumsi. Karena kandungannya yang sama dengan garam biasa, maka sebenarnya tidak ada manfaat yang signifikan dari garam himalaya.
Memang, beberapa orang bilang manfaat garam himalaya adalah seperti ini:

  • Menguatkan tulang
  • Meningkatkan sensitivitas insulin
  • Mengurangi masalah pernafasan
  • Mengatur tekanan darah
  • Meningkatkan Hidrasi
  • Menghindari keram otot
  • Meningkatkan kualitas tidur


hiamalayan salt mpasi

Kalau Kamu perhatikan, ini sebenernya bukan manfaat garam himalaya, tapi manfaat garam secara umum. Manfaat sodium klorida. Ya normalnya gitu. Jadi, mau apapun garam yang dipakai, selama mengandung sodium klorida (dalam dosis tertentu), manfaatnya ya seperti itu. Jadi bukan sesuatu yang baru. Beberapa sumber yang menyebutkan manfaat garam himalaya, memang menuliskan sumber studinya. Tapi waktu Saya cek, ternyata studinya bukan garam himalaya, tapi ya garam aja. Adapun studi yang “katanya” menyatakan bahwa garam himalaya punya manfaat ke kesahatan yang sudah di teliti, Saya cek nggak ada tuh studinya. Dan yang bilang ini ada manfaatnya juga nggak pernah menunjukan studinya. Jadi, bisa dibilang ini suatu kebohongan. Sampai sekarang, Saya belum menemukan studi yang secara spesifik meneliti tentang garam himalaya dan manfaatnya. Karena itu, kalau mau bikin klaim soal kesehatan, harus bersedia menunjukan studinya. Biar jelas.
.
“Tapi ini natural lho mas. Organik!”
.
Bentar… Bentar…
Emang natural apa artinya? Kalau ditanya ini banyak yang nggak tahu nih definisnya. Kalau yang dimaksud adalah dari alam sih oke-oke aja. Emang garam himalaya dari alam. Sama kayak garam yang lain juga. Ironisnya, natural ini sering digunakan sebagai trik marketing saja. Di Amerika, penggunaan label natural itu sudah ditarik karena belum jelas secara definisi. Setelah di definisi ulang,  hanya beberapa produk aja yang boleh dikasih label natural. Diluar itu ilegal. Yang perlu diingat, natural bukan berarti sehat. Jamur amanita phalloides itu natural. Tapi beracun. Berbahaya. Membunuh. Bahkan sianida yang dipakai buat bunuh orang, itu juga ditemukan secara natural pada singkong. Bahaya kan? Karena itu, natural juga bukan berarti lebih baik. Nggak sesimpel itu.
Soal organik, ini juga sebenarnya mencengangkan. Secara aturan, garam itu tidak bisa dilabeli organik. Kalau dari definisi kimianya, organik adalah zat yang mengandung karbon. Sayangnya, garam tidak mengandung karbon. Jadi, melabeli garam dengan label “organik” itu penipuan yang sangat nyata. Ups!
Makanya kudu jelas dulu definisi organik yang dipakai itu apa. (Nanti deh, kita bahas lebih detil soal label natural dan organik karena ini bisa sangat panjang). “Garam himalaya kan bukan GMO mas!” Ini biasanya yang ngomong kayak gini nggak ngerti GMO itu apa. Mungkin GMO singkatannya apa juga nggak tahu. Sejak kapan ada garam GMO. Weeee….

Kelebihan Garam Himalaya dibandingkan Garam Biasa


himalayan salt asli palsu

Setahu Saya, ada 2 kelebihan yang dimiliki oleh garam himalaya. Pertama, kelebihannya adalah prestisius. Lha wong harga garam himalaya ini jauh lebih mahal. Harga Garam Himalaya di Supermarket 20 kali lebih mahal dengan berbagai macam merk garam himalaya yang bagus dan asli. Ya meskipun secara kandungan dan manfaat sama aja dengan garam lain. Tapi kan jadi lebih gimana gitu kalau pakai garam mahal. Sama kayak Kamu kalau punya tas Chanel. Tasnya mah secara fungsi sama aja, bawa barang. Tapi gengsinya yang beda. Kedua, kelebihan dari garam himalaya adalah…. Instagramable! Bagus aja gitu kalau di foto. Warnanya kan agak pink-pink gitu. Coba kalau garam biasa, boring. Putih doang. Jadi ya itu kelebihannya.

Garam Himalaya Lebih Gurih?


Kalau soal rasa, ini subjektif. Setiap orang punya persepsi yang berbeda pada hal yang sama. Makannya, dalam ilmu soal rasa, disebutnya taste perception atau persepsi rasa. Contohnya makanan manis. Pernah nggak Kamu dan temen Kamu makan makanan manis yang sama, tapi punya persepsi yang berbeda? Yang satu bilang kurang manis, yang satu bilang kemanisan, padahal menurut kita biasa aja. Begitupun dengan rasa asin. Maka, cara paling benar kalau menguji rasa adalah dengan blind-test. Blind-test itu simpelnya gini, Kamu membandingkan 2 hal tapi Kamu nggak tahu 2 hal itu apa untuk kemudian Kamu simpulkan. Kalau dalam kasus garam himalaya ini, testnya adalah dengan cara orang di suruh nyobain 2 jenis garam berbeda, tapi orang itu nggak boleh tahu itu garam apa dan harganya berapa. Gitu.
Kenapa blind-test penting? Tahu nggak Kamu kalau rasa itu bisa dipengaruhi oleh label? Misalnya label harga. Ada sebuah studi (2) menarik yang meneliti tentang pengaruh label terhadap harga. Sebanyak 54 orang pasrtisipan di rekrut untuk mencicipi wine. Setiap botol wine, ada label harganya mulai dari $4 sampai 22$. Di akhir, setiap orang memberikan rating terhadap rasa dari wine yang mereka minum. Yang mereka nggak tahu, setiap wine itu sebenernya sama aja. Yang beda cuma lebel harganya. Hasilnya? Wine dengan label harga yang tinggi rasanya lebih enak.  Bahkan, sebuah studi (3) yang menunjukan bahwa merubah nama saja bisa mempengaruhi persepsi orang terhadap rasa sehingga mempengaruhi penjualan. Meskipun makanannya sama! Emang sih makanan enak sama nggak enak kita bisa rasain dan bisa bedain. Tapi, rasa makanan sebenernya nggak sesimpel itu, apalagi pada 2 makanan yang mirip-mirip. Ada pengaruh dari luar yang mungkin kita tidak sadari. Itulah alasannya kenapa kalau mau menentukan rasa, termasuk soal garam himalaya ini, perlu dilakukan blind test. Biar adil. Sampai sini paham ya?

Emang sih, manusia seperti Saya dan Kamu ini punya kecenderungan untuk menyukai hal baru. Soalnya, di otak kita ada yang namanya substantia nigra/ventral segmental area. Ini adalah pusat yang ngurusin soal“sesuatu yang baru” yang ada di otak. Bagian ini juga berkaitan dengan dopamine, salah satu hormon yang mengatur perasaan bahagia. Jadi ketika ada sesuatu yang baru, kita penasaran dan di situ ada dopamine yang muncul. (Ini juga alasannya kenapa kita suka ikut-ikutan tren diet. Padahal dietnya mah itu-itu aja, cuma beda nama.) Hal inilah yang dimanfaatkan beberapa marketer untuk memasarkan produknya ke orang-orang. Menawarkan sesuatu yang terkesan “baru” atau “beda”. Mungkin nggak baru atau beda, tapi diberi kesan baru atau beda. Belum lagi di bumbui klaim-klaim tertentu atau di endorse oleh orang yang punya kedudukan seperti artis, dokter, pakar, dan lain-lain. Saya nggak menyalahkan praktik bisnis lho ya. Bisnis itu boleh dalam agama (khususnya agama Saya, islam) selama apa yang dijual dan bagaimana transaksinya dibenarkan dalam agama. Yang Saya salahkan adalah jika ada klaim yang tidak sesuai dengan fakta dari produknya. Khususnya dalam kasus garam himalaya ini. Maka dari itu, ketika Kamu mendapat sesuatu, coba Kamu kenali dulu bener-bener. Jangan langsung ngegas. Jangan karena yang ngomong Saya atau orang yang di anggap ahli, langsung main comot dan pakai aja karena di anggap benar. Apalagi kalau nggak ada penjelasan ilmiahnya. Termasuk dalam kasus garam himalaya ini.

Pada dasaranya, hak Kamu kok kamu mau pakai garam apapun harga berapapun. Mau pakai yang 7 ribu sekilo atau 7 juta sekilo, terserah. Kalau Kamu punya uang lebih, ya monggo aja. Saya sih nggak melarang Kamu untuk beli garam himalaya. Siapa Saya ngelarang-ngelarang. Yang penting nggak minta Saya buat beliin aja, hehehe…
Bagi Saya sendiri, karena belum ada studi valid yang menyatakan manfaat dari garam himalaya dan karena kandungannya cenderung sama dengan garam biasa, maka Saya kemungkinan sangat besar akan tetap menggunakan garam biasa aja. Efektif secara manfaat dan efisien secara biaya. Lagi pula, kalau mau sehat, masalahnya bukan cuma soal garam. Atau nggak ada 1 jenis benda yang super yang manfaatnya luarbiasa. Sehat itu soal gaya hidup keseluruhan. Percuma garamnya udah terkontrol, tapi gaya hidup keseluruhannya berantakan. Maka, fokuslah ke hal-hal esensial seperti hidup lebih aktif, makan lebih baik, olahraga, cukupin protein, dan lain-lain.
Case Closed! Tok… tok… tok…!
manfaat himalayan salt, bahaya garam himalaya, manfaat himalayan salt untuk bayi, himalayan salt untuk mpasi, garam himalaya palsu, ciri garam himalaya asli, himalayan salt palsu, himalayan salt nutrition
-----------------------------------------
Kalau di rasa bermanfaat, silahkan share ya!
-----------------------------------------
Sumber:
Tulisan inspiratif oleh Arbiarso Wijatmoko
https://themeadow.com/pages/minerals-in-himalayan-pink-salt-spectral-analysis
https://www.nature.com/articles/s41598-017-08080-0
Brian Wansink, James E. Painter, and Koert van Ittersum, “Descriptive Menu Labels’ Effect on Sales,” Cornell Hotel and Restaurant Administrative Quarterly 42:6 (December 2001): 68–72.