Inilah Dampak Negatif Gadget Bagi Anak dan Cara Menghindarinya

Anak-anak memang tidak mungkin lepas dari kemajuan teknologi termasuk gadget tapi juga tidak boleh diperbudak teknologi. Orang tua perlu mengendalikan penggunaan gadget untuk anak. Walaupun tidak sampai melarang "No Gadget at All", mengendalikannya dengan membatasi penggunaannya. Target ideal suatu hari tanpa gadget, gadget hanya diberikan sebagai reward, dan pembatasan waktu pemberian gadget.
Sebenarnya usia berapa anak boleh memakai handphone?
Menurut Ibu Meiana Evyta, konselor keluarga dan perkembangan anak, yang perlu diperhatikan saat membekali HP/gadget ke anak-anak adalah ‘tanda-tanda perkembangannya’. Orang tua perlu cermat apakah anakya termasuk bisa diberi tanggung jawab atau tidak. Apakah mereka paham penggunaan HP/gadget secara aman? Karena kematangan satu anak dengan anak yang lain berbeda meski usianya sama. Kenapa orang tua mesti cermat? Karena HP/gadget punya pengaruh yang kuat pada perkembangan anak. Fasilitas-fasilitas yang ada dalam HP/gadget sekarang bukan sekedar alat komunikasi, tapi juga bisa jadi sarana hiburan.
image by postdesk.com
Apakah ada pengaruh/dampak yang buruk gadget bagi anak-anak?
Bila anak belum matang dan bertanggung jawab dibekali HP/gadget, mereka akan sering terlena. Pikiran dan konsentrasinya bisa terpusat pada game, tontonan, lagu atau hiburan lain yang ada di HP/gadget. Ini bisa membuat anak malas belajar, sekolah atau beraktivitas positif lainnya.
Bagaimana kiat mengatur penggunaan HP/gadget untuk anak?
Untuk menyikapi efek negatif yang mungkin ditimbulkan HP/gadget, ada baiknya orang tua tahu waktu yang tepat dalam membekali HP/gadget pada anaknya. Berikut ini kiat-kiat kapan sebaiknya HP/gadget boleh diberikan pada anak,

1. Hindarkan Balita dari HP/gadget
Sebenarnya pada usia balita, anak sudah bisa diperkenalkan penggunaan HP/gadget karena mereka sudah bisa memencet-mencet tombol. Namun hal ini banyak menimbulkan efek negatif karena mereka jadi kurang menjelajahi dunia nyata sekelilingnya. Ini juga akan mengurangi aktivitas yang berhubungan dengan panca indra yang lain selain mata. Bila kurang dilatih, kemampuan panca indera akan berkurang. Oleh sebab itu, HP/gadget sebaiknya diberikan saat anak benar-benar butuh dan bisa dipercaya memegangnya. Minimal usia mereka menginjak 10-11 tahun atau lebih baik lagi setelah duduk di bangku sekolah menengah saja.
Di usia ini, mereka sudah ini mereka sudah memasuki awal praremaja. Harapannya, mereka akan lebih mudah diberi pengertian tentang dampak positif dan negatifnya. Orang tua harus mendampingi anak saat menggunakan HP/gadget. Bila anak sudah siap dibekali HP/gadget, sebaiknya orang tua tetap mendampingi. Saat mereka memakai HP/gadget, usahakan menggunakan HP/gadgetnya di ruang keluarga sehingga bisa diawasi.
Hindarkan anak memakai HP/gadget di kamar. Orang tua harus memonitor dan menemani aktivitas putra-putrinya saat menggunakan aplikasi HP/gadget. Karena ada aplikasi-aplikasi yang berbahaya yang mengandung sadistis atau pornografi
.
2. Batasi waktunya
Anak yang berusia empat sampai lima tahun, sebaiknya tidak lebih dari setengah jam memakai HP/gadget. Untuk usia enam hingga tujuh tahun, tidak lebih dari sejam. Bila terlalu banyak menatap HP/gadget , dikhawatirkan akan merusak mata anak. Sementara untuk usia di bawah sekolah menengah, disarankan memakai HP/gadget hanya saat mereka libur.
Awasi fasilitas dan konten yang ada di HP/gadget anak. Orang tua harus mengontrol isi (baik aplikasi atau pesan) yang ada di HP/gadget anak. Pilih yang sekiranya dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Berikan peringatan bila ada isi yang dikhawatirkan mempengaruhi pikiran anak.

3. Usahakan yang menunjang sekolahnya
Bagi anak usia sekolah, gunakan aplikasi HP/gadget yang menudukung kegiatan belajar dan menunjang kurikulum pelajaran. Cari aplikasi yang membantu anak untuk bisa menjelajah alam, keanekagaraman hayati, mengenal bangsa-bangsa dan sebagainya yang tidak ada di buku sekolah.

 4. Berikan HP/gadget yang sederhana
Cukup berikan HP/gadget yang sesuai dengan kebutuhan anak saja. Terutama untuk berkomunikasi dengan orang tua. Bukan untuk ‘jor-joran’ dan bersaing dengan teman-temannya. Juga bukan ajang gaya-gayaan, bersaing atau mengikuti tren. Hindari handphone yang mendukung banyak game. Ini bisa jadi bumerang. Kalau anak sudah kecanduan, dia bisa sembunyi-sembunyi main game, bahkan saat di sekolah.

Masih banyak hal yang perlu di-explore di alam ini. Itu lah sebabnya wisata alam dapat menjadi wisata alternatif bagi anak-anak. Apalagi bagi keluarga yang tinggal di kota , sehari-hari menghirup asap dan polusi membutuhkan udara yang bersih. Selain itu, anak-anak lebih mengenal pencipta keindahan alam ini melalui alam ciptaannya langsung. Anak-anak pun lebih menyukai bermain dengan alam daripada games/youtube di gadget. Selain wisata alam, kita bisa mengalihkan gadget dari anak-anak dengan membaca buku atau bermain mainan bersama sodara/temannya. Mengeluarkan uang untuk nvestasi buku bergizi, aneka mainan, dan biaya wisata alam lebih baik daripada anak sakit karena anak kecanduan/dampak negatif gadget.

Masukan Email Anda untuk Berlangganan Info Terbaru: