Pertolongan Pertama Digigit Ular Berbisa yang Benar Berdasarkan Dokter dan Medis

Bagaimana penanganan gigitan ular yang benar? Artikel ini adalah resume dari materi tentang Pertolongan pertama digigit Ular Berbisa oleh Dr.dr. Tri Maharani  MSi. Sp.EM. beliau adalah dokter yang ahli di bidang kegawatdaruratan medis, seorang ahli toksikologi gigitan ular yang juga konsultan WHO dalam hal ini. Selama ini mungkin kita banyak dipengaruhi oleh sinetron dan film terkait penanganan gigitan ular berbisa. Tahukah Anda bahwa informasi tentang penanganan gigitan ular yang beredar di masyarakat ternyata banyak yang salah. Misalnya seperti cara mengobati gigitan ular berbisa dengan cara dikeluarkan darahnya, diberi obat herbal, diberi ikatan kuat pakai tali, disedot pakai mulut atau alat semuanya yang sudah tidak direkomendasikan WHO. Kesalahan penanganan awal gigitan ular dapat memperparah kondisi penderita. Yang mempengaruhi tingkat bahaya gigitan ular adalah jenis species ular dan cara penanganan awal. Jenis gigitan ular dapat mendeteksi apakah berbisa atau tidak, tetapi sulit untuk mendeteksi spesies ular tersebut.
pertolongan pertama digigit ular berbisa
http://survival-mastery.com/

Ada dua jenis ular berbisa, yaitu ular neurotoksin yang mana bisanya menyerang syaraf, seperti weling, king kobra, dan ular papua. Yang kedua jenis ular hemotoksin seperti ular tanah, ular hijau atau ular blandotan. Menurut penelitian, bisa ular mengalir melalui kelenjar limfatik atau kelenjar getah bening pada fase awal. Kelenjar getah bening terletak diatas otot tepat dibawah kulit kita. Sifatnya sangat lunak dan tipis, sehingga dia akan memompakan bisa ular ke seluruh tubuh seiring dengan pergerakan otot kita. Oleh sebab itu, dipakai cara baru untuk penanganan awalnya. Berikut cara penanganan gigitan ular yang benar:

1. Pasien harus dibuat rest dan tidak banyak bergerak (imobilisasi).
Caranya dengan cara spalk dari kayu, bambu, atau kardus atau sesuatu yg keras dan tidak mudah bergerak seperti pertolongan pada patah tulang. Jika ularnya golongan seperti weling atau king kobra atau ular papua seperti taipan maka dibalut dulu dengan elastik bandage, kemudian baru diimobilisasi dengan spalk kayu, bambu, atau kardus. Jika tidak ada elastik bandage, apakah boleh menggunakan kain? Tidak bisa, karena kain tidak elastik. Fungsinya elastik bandage adalah untuk menekan kelenjar getah bening. Jadi kalau tidak elastik akan berfungsi mengikat, sehingga membuat aliran darah terhambat dan jaringan rusak dan bisa diamputasi karena kematian jaringan.

2. Lukanya di tutup tanpa perlu dikeluarkan darahnya atau ditoreh atau dihisap atau diikat. Tidak ada waktu aman bagi penderita jika digigit ular berbisa. Kalau kita digigit ular berbisa, maka secepatnya harus dibawa ke pelayanan kesehatan dengan cara dibuat imobilisasi, karena kita tidak pernah tahu berapa banyak bisa ular yang masuk. Tapi kalau ular tidak berbisa memang tidak perlu tergesa. Kalau luka dalam, bahayanya hanya infeksi. Jika luka gigitan sudah masuk fase sistemik maka dibutuhkan antibisa ular. Jika penanganan awal gigitan ular bagus, maka tidak jadi sistemik. Sitemik artinya sudah merusak organ tubuh. Antibisa ular hanya dibutuhkan di fase sistemik dengan tanda gejala berupa perdarahan gusi, perdarahan di tempat gigitan yang tak berhenti, sesak nalas, dan tanda neurologis misalnya ngantuk dan kelopak mata atas jatuh, hingga gagal gunjal akut. Hasil laboratoriun pemeriksaan darah pun menunjukkan adanya peningkatan faktor pembekuan darah, yang artinya darah susah beku.





Sedangkan jika luka gigitan masih fase lokal, biasanya bengkak dan nyeri biasa saja, tidak ada perdarahan, sesak atau gagal ginjal mendadak. Jenis bisa ular itu macam macam ada yang menyerang darah , ada syaraf ,dan jantung atau otot atau membuat kematian jaringan atau nekrosis. Penanganan medisnya tergantung fase gigitan. Jika masih fase lokal, diberi analgesik dan imobilisasi saja. Kalau sudah masuk fase ssistemik, penangannya tergantung tanda sistemiknya.

Sekedar informasi, saat hujan dan banjir ular akan banyak keluar. Berikut tips untuk mengurangi resiko gigitan ular :
1.   Jika penyebabnya adalah lingkungan, maka kita harus membersihkan lingkungan dari tikus, ayam, cicak, katak yang merupakan makanan ular. Kenapa? Karena ular tertarik dengan makanannya, bukan tertarik dengan manusia.
2.    Jika terkait dengan pekerjaan, seperti petani, nelayan, dll, maka harus memakai pengaman diri jika ke gunung, hutan atau sawah, misalnya sepatu boot atau topi dan tongkat serta senter.
3.    Memakai kelambu saat berkemah dan tidak tidur ditanah. Ular tidak takut garam tapi kalau kita tidur diatas dan berkelambu nylon dia tidak bisa masuk karena sangat sempit seratnya.
4.    Ular hanya akan mengigit kalau terancam, jadi kalau ada ular maka stop diam saja jangan bergerak. Ular hanya melihat bayangan saja, jadi dia hanya tahu bergerak dan tidak bergerak. Ular tidak bisa bedakan itu pohon atau manusia, tetapi dia bisa merasakan dia terancam atau tidak. Lebih baik jika membawa tongkat, jadi kita bisa singkirkan pelan-pelan. Isi bisa ular adalah enzim pencerna makanan, jadi kesimpulannya ular tidak akan mengigit manusia kalau tidak merasa terancam karena enzimnya sangat berguna untuk mencernakan makanan.

Jadi, ular hanya bisa bedakan keadaan terancam atau aman. Ular itu tidak akan mengigit kalau tidak terancam dan kita bisa menangani gigitan kalau kita bisa melakukan penanganan telat denba imobilisasi dan elastic bandage, sehingga luma gigitan tetap pada fase lokal tidak jadi sitemik. Jika masuk fase sistemik maka harus dibawa ke pelayanan kesehatan dan diberi antibisa ular.

Masukan Email Anda untuk Berlangganan Info Terbaru: