Ajarkan Konsep Keuangan Islami Kepada Anak Agar Sukses di Masa Depan

"Dek, untuk apa kau habiskan hartamu?"
Sebagaimana perempuan lainnya yang jadi ibu, berbarengan dengan lahirnya bayi, lahir juga beragam kecemasan-harapan yang berkelit menjadi satu. Salah satunya poinnya adalah uang. Berhubung "uang" adalah salah satu aspek dari rezeki, maka bahasan kali ini akan nyerempet-nyerempet tentang uang, harta, dan rezeki.
Konsep Rezeki dari Allah SWT
*"Kenalan"*
Iya kenalan. Jauh sebelum anak perlu belajar tentang bagaimana mengatur uang, anak perlu 'kenalan' dulu, tentang konsepnya: darimana ia berasal, bagaimana cara mendapatkannya, dan untuk apa ia dibelanjakan. Mudah-mudahan anaknya tidak ada yang jawab "uang bisa diambil kapan dan berapa aja dari mesin ATM yaa."

Jika anak bertanya kepada Ibu, darimana datangnya uang/harta? Jawabannya dari Allah, Ia diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan dalam kadar sesuai yang ia kehendaki.
Jika anak bertanya mengapa ayah bekerja untuk cari uang? Jawabannya bukan untuk menyekolahkan kamu nak. Jawablah dengan ayah bekerja untuk menuntaskan kewajibannya, (mengusahakan rezeki). Sedangkan datang/tidaknya rezeki adalah Hak Allah. Rezeki Allah bertebaran di muka bumi. Tugas manusialah untuk menjemputnya. Hal tersebut akan jadi dasar argumen kita pada anak, manakala datang ujian finansial, suami bekerja kesana kemari namun rezeki "segitu-gitu" aja.

Masih soal datangnya uang, Makin besar, mungkin anak akan bertanya: "Kenapa dia/temenku bisa beli ini itu, atau punya ini itu, kenapa kita enggak?" Jawabannya Nak, Allah tetapkan rezeki yang beda-beda jumlahnya, dan itu terserah Allah. Rezeki itu bukan cuma uang, Kamu sehat adalah rezeki, jadi tidak perlu bayar dokter/beli obat. Ada kakek/nenek bawakan makanan itu rezeki. Ada ibu temani kamu di rumah juga rezeki. Jika kamu bersyukur, tambah terasa nikmat rezekinya, dan Allah tambah juga berkahnya.Tapi kalau tidak bersyukur, Allah maha kuasa untuk ambil lagi apa-apa yang tidak kita syukuri.

(Berat ya dialognya, pelan-pelan saja mom)
Sederhananya, setiap anak "lupa" dengan rezeki yang ada depan matanya; mainan, buku, kesehatan. Ajak mereka membayangkan seandainya apa-apa yang mereka miliki itu tidak lagi ada. Dan puji mereka jika sudah mampu mensyukuri apa yang ada depan matanya. Nah, ini kembali ke konsep uang.
pendidikan keuangan anak islami
image by www.ymmi-online.com

Apa fungsi Uang?
Ketika bicara mengenai harta, Al-quran menyebutkan 3 peran terkait dengannya :
1.Fadhl :Harta memberikan keutamaan pada yang memilikinya, dan sebaik-baik harta adalah yang dibelanjakan di jalan Allah. (menafkahi keluarga, infaq, wakaf, sedekah). Harta memberikan keutamaan pada yang memilikinya, dan sebaik-baik harta adalah yang dibelanjakan di jalan Allah. (menafkahi keluarga, infaq, wakaf, sedekah).2.Qiyaman :Yang "menegakkan". Maksudnya adalah ia membuat kita berdiri sendiri, dan tidak menghinakan diri (meminta-minta). Yang "menegakkan". Maksudnya adalah ia membuat kita berdiri sendiri, dan tidak menghinakan diri (meminta-minta).3.Khair :Kebaikan. Maksudnya adalah memiliki yang haruslah mendatangkan manfaat dan kebaikan pada pemiliknya. Jika ia mendatangkan keburukan, atau dibelanjakan pada hal-hal maksiat/yang Allah tidak ridho dengannya, maka tidaklah keberadaan harta itu berkah bagi pemiliknya.
Insyaa Allah setelah anak belajar konsep ini, akan bisa diingatkan ketika mulai mau "belanja semaunya". Tapi harus tetap didukung dengan contoh dari ayah ibunya. Tidak mungkin kan anaknya disuruh hemat sementar ibunya doyan belanja. Dan jadi hujjah jawaban orangtua ketika anak minta "jajan" atau "belanja di luar kebutuhan". Selain itu, bisa dengan memberikan penjelasan kepada anak, kalau rezeki itu harus diatur alokasinya, supaya tidak dihambur-hamburkan ketika sedang banyak, tetapi nanti di akhir malah tidak ada dana untuk beli kebutuhan. Terkait penjelasan tersebut, orang tua bisa bercerita tentang kisah Nabi Yusuf dan mimpi raja, "7 sapi gemuk melahap 7 sapi kurus".

Untuk jajanan, bisa disampaikan kalau anak "tidak butuh", karena sudah ada makanan di rumah, dan ibu bisa buatkan. (Ini proses belajarnya jauh ke belakang mulai dari dia menyusui & mpasi, yakni "tidak mengkonsumsi melebihi kebutuhannya). Kalau anak tetap tidak terima, jika anak bisa diajak berdialog, ajak dia "makan yang tersedia", tidak "nyari yang tidak ada". (Kembali ke konsep syukur) terus, apa lantas anak tidak boleh jajan? Boleh kok, sesekali. Fungsinya insidental, saat ada tamu sebagai jamuan, saat lagi jalan-jalan, atau saat dia melakukan hal baik. Kalau sudah ada "racun jajan" dari lingkungan temen/keluarga dekat, mungkin akan makan sedikit waktu untuk "detoks". "Racun jajan" misalnya anak sudah terbentuk persepsi di kepalanya, "kalau tidak ada, ya kita beli", atau "kalo kita mau dan ada uang, ya kita beli". Padahal, memutuskan 'beli atau tidak' bukan tentang 'ada-uangnya atau tidak'. Tapi tentang, 'apakah dengan memilikinya mendatangkan kebaikan' untuk kita/anak atau tidak.

Anak 3-4 tahun keatas sudah mulai tumbuh empatinya, maka ajarkan untuk berempati terhadal saudara/orang-orang yang tidak seberuntung dia. Dan akan ditanya :
dari mana ia diperoleh? Untuk apa ia digunakan?

Tentang darimana ia diperoleh, jelas standarnya adalah Halal & Thayyib
Dan untuk apa ia digunakan, kembali ke koridor 3 tadi : Untuk ZIS, belanja kebutuhan pokok, dan hal hal lain yang mendatangkan kebaikan bagi pemiliknya.

Dan ini boleh jadi standarnya berbeda untuk masing-masing keluarga. Ada baiknya perlahan orangtua mulai menjelaskan, tujuan mereka beli sesuatu, dan alasan mereka tidak beli sesuatu. Semoga membantu anak untuk berproses mencerna mana saja barang yang mendatangkan manfaat dan yang tidak.

Konsep Ar Rusyd vs As Safahah
Ini adalah goal pendidikan finansial anak. Rusyd, adalah karakter anak yang sudah mampu bertanggungjawab atas dirinya mencakup segala hal (tubuhnya, waktunya, hartanya). Dan dengan berbekal konsep tadi, perlahan orangtua bisa menyusun strategi bagaimana agar di usia baligh (12-14) anak sudah memiliki karakter ini (rusyd).
Beberapa kekeliruan orangtua yang menghasilkan 'mispersepsi' anak tentang uang.
1.Memberi uang anak tanpa alasan
Ini berpotensi membuat anak beranggapan bahwa uang datang sendirinya tanpa perlu kerja keras. Lantas, apa tidak boleh "memberi cuma-cuma"? Boleh, asal jelaskan alasannya ke anak. Misalnya, ia berperilaku baik hari ini, atau ia telah menghafal satu juz quran, atau hal-hal lain yang memang menunjukkan kerja keras. Namun, perlu diingat jangan dirutinkan, agar tidak jadi pamrih atau mengharap ganjaran uang.
2.Mencontohkan dan membentuk kebiasaan anak belanja barang-barang di luar kebutuhan
Untuk poin ini, sekali saja ayah ibu membelikan barang yang tidak bermanfaat, maka akan jadi argumen anak kelak. Jadi pastikan poin "urgensi" tadi terpenuhi, misalnya dibelikan sebagai hadiah, dibelikan karena dari sana anak bisa belajar ini-itu. Dibelikan karena ayah mau berbagi rezeki lebih.
3.Hindari menjadikan uang saran menyenangkan anak
Potensi bahayanya, anak akan beranggapan bahwa baik atau tidak nilai dirinya/sikapnya diukur dengan seberapa banyak uang yang dimiliki.

Beikut ini urutan pendidikan manajemen harta pada anak, (versi Yurika) berdasarkan materi diatas :
BAYI
Mulai dari bayi, biasakan ia mengkonsumsi ASI maupun MPASi sesuai kebutuhannya, dan terapkan delayed gratification.
Umur 1-2 tahun
Di usia ini, boleh jadi semakin banyak permintaan bayi, tapi semakin banyak juga yang tidak perlu kita turuti (konsep dasar wants vs needs). Termasuk penyapihan, menyapih ketika ia sudah tak lagi membutuhkan ASI, termasuk ikhtiar mendidiknya hanya mengonsumsi yang dibutuhkan.
Umur 3-6 tahun
Masa membangun dan mengokohkan fondasi adalah di masa ini. Masa persiapan mereka/pembekalan menuju praktik manajemen keuangan umur 7 tahun nanti. Melatih sikap, menginstall pemahaman, minta rezeki dan mengharap hanya ke Allah (orangtua bisa ajak anak berdoa tiap mereka mengharap sesuatu), bersyukur/qanaah atas harta yg dimiliki(tidak gampang iri dengan mainan/rezeki orang, merawat benda2 yang dimiliki, belajar berbagi/meminjamkan), belajar membedakan mana yang manfaat dan yang tidak (ini bergantung dengan gaya belanja orang tuanya, jadi orang tua harus memberi contoh yang baik).
Umur 7-10 tahun
Sebagaimana ini usia anak latihan tanggungjawab atas ibadahnya, ini juga jadi masa latihan hal-hal kemandirian lainnya, termasuk memanage harta. Ketika ia sekolah : berikan ia uang untuk belanja kebutuhannya (diberi untuk kebutuhan), evaluasi penggunaannya, ajarkan ia mengalokasikannya untuk sedekah/menabung untuk barang-barang bernilai besar yang dibutuhkannya.
Usia 9 tahun
Pada usia ini harus mampu membuat laporan/catatan keuangan dan persiapkan ia dengan ketrampilan yang dapat menghasilkan uang.
Usia 10-12 tahun
Kenalkan ia dengan beragam profesi/lahan pekerjaan yang dapat menjadi sumber penghasilan, temukan minatnya, asah dan perdalam ketrampilan sesuai minatnya.
Target : Usia 12 tahun mulai magang di bidang sesuai peminatannya
Usia 12-14 tahun
Pada usia ini anak mulai magang sesuai dengan ketrampilannya, menghasilkan uangnya sendiri pun masih dalam tanggungan orangtua, dengan asumsi anak sudah mencapai karakter rusyd di usia ini, orangtua hanya perlu mengevaluasi secara lisan lewat dialog santai, tidak perlu lagi laporan tertulis
Usia 14-17 tahun
Memperdalam keahliannya, menjadi ahli di bidang yang diminatinya. Kenalkan anak dengan orang-orang besar di bidangnya, biarkan ia belajar dari mereka.
Usia 17-21 tahun
Gali motivasi anak, asah kepekaan untuk menemukan masalah di lingkungannya, dan tumbuhkan kesadaran mereka untuk membuat produk/inovasi/gerakan yang menjadi solusi bagi masyarakatnya (sekaligus menjadi pintu rezeki baginya).
Tentang halal-haram
Pembelajaran pertama untuk AUD (anak usia dini), adalah dengan menghormati hak milik mereka. Baru kemudian ajarkan ia menghormati hak orang : izin sebelum meminjam dan tidak mengambil yang bukan miliknya dsb

-----
Materi oleh Ustadzah Poppy Yuditya (tim pengajar Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah)
. Dibagikan oleh Yurika

Subscribe to receive free email updates: