Antara Populernya Musim Batu Akik dan Pencitraan Jokowi. Jangan Tertipu!

Berita dapat diciptakan sesuai keinginan pesanan, wartawan bisa dibeli, dan wartawan bisa dibungkam dengan uang. Namun, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang, suatu kebenaran pasti akan terungkap pada suatu saat nanti. Judul tulisan Kepopuleran Musim Batu Akik dan Pencitraan Jokowi  ini memang terkesan provokatif, politis, dan nyinyir bagi Anda fans berat Jokowi dan hobi batu akik. Namun, bukan itu maksud tulisan ini dibuat. Tulisan Kepopuleran Musim Batu Akik dan Pencitraan Jokowi ini dibuat dengan maksud agar kita tidak menjadi manusia follower yang tertipu oleh opini media. Fenomena musim batu akik ternyata bisa kita ambil hikmahnya. Mari simak lanjutan tulisan di bawah ini.

Hati-Hati Sihir Media

Media merupakan salah satu alat yang bisa membentuk opini masyarakat. 
Dari opini yang dibangun oleh media tersebut masyarakat dapat diarahkan kepada suatu pilihan tertentu, selera tertentu, dan kecenderungan tertentu. Namun, sayangnya tidak semua yang ditayangkan atau diberitakan oleh media adalah informasi yang benar dan valid. 
Berita dapat diciptakan sesuai keinginan pesanan, wartawan bisa dibeli, dan wartawan bisa dibungkam dengan uang. Namun, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang, suatu kebenaran pasti akan terungkap pada suatu saat nanti. Banyak informasi sampah yang beredar di media sosial (semoga tulisan ini bukan informasi sampah). Oleh sebab itu, sebagai pembaca media yang cerdas seharusnya kita memilih dan menyeleksi mana informasi yang benar dan valid.

Sihir Media Pencitraan Politik

Dalam ilmu marketing ada sebuah pelajaran tentang Personal Branding. Apa itu Personal Branding? 
Personal Branding adalah mencitrakan dan mempopulerkan seseorang sehingga ketika seseorang menyebut suatu hal tertentu maka orang-orang akan langsung teringat pada nama orang tersebut. Misalkan, ketika seseorang mengatakan pakar IT maka Anda akan teringat Roy Suryo, ketika seseorang mengatakan “ahli perencanaan keuangan” maka akan teringat Safir Senduk, dll. 
Personal branding ini banyak digunakan untuk tujuan bisnis. Namun, tidak menutup kemungkinan personal branding ini digunakan untuk media penokohan calon presiden, calon anggota DPR, dll. Salah satu kesuksesan personal branding untuk tujuan politik adalah fenomena Jokowi. Terlepas dari hater dan lover Jokowi, secara objektif personal branding “blusukan” dan “merakyat” sukses menokohkan Jokowi. Kenapa sukses? Karena setiap orang mengatakan “blusukan” maka orang akan teringat dengan sosok Jokowi, bukan begitu pemirsa.

Sihir Media Menghukum Seseorang yang Belum Terbukti Bersalah

Personal branding yang diciptakan media ternyata bukan hanya bermanfaat untuk mempopulerkan secara positif nama seseorang di ranah bisnis dan politik. 
Personal branding ternyata dapat digunakan oleh orang-orang yang berniat tidak baik kepada seseorang, organisasi, dan institusi tertentu yang bertujuan menghancurkan nama baiknya.
Coba bedakan berita “Poligami Aa Gym dengan berita Kasus Video Ariel Peterpan”. Pemberitaan negatif terhadap poligami Aa Gym ternyata dapat menggiring opini buruk masyarakat terhadap poligami dan nama baik Aa Gym. Padahal poligami yang dilakukan Aa Gym adalah sesuatu yang tidak melanggar agama dan norma masyarakat (tidak ada norma masyarakat yang melarang poligami). Berbeda dengan kasus Video Ariel Peterpan, media mengekspos positif terhadap berita ini dengan secara berulang-ulang memberitakan banyak fans Ariel Peterpan yang memberikan motivasi agar terus berkarya. Padahal apa yang dilakukan secara nyata melanggar norma agama dan masyarakat. Di ranah politik ternyata personal branding dapat digunakan untuk menjatuhkan lawan politiknya. Beberapa kasus berita korupsi digunakan untuk menggebuk lawan politiknya padahal kasus tersebut belum tentu bersalah di keputusan sidang pengadilan. Kalaupun bersalah, maka pemberitaan yang sensasional dan berulang-ulang dapat menghancurkan nama baik orang tersebut melebihi orang yang terkena kasus korupsi lebih besar tetapi tidak diberitakan oleh media.

Sihir Tren Musim Batu Akik dan Jokowi Sukses Ciptakan Manusia Follower

Pemberitaan tren musim batu akik ternyata menggiring opini masyarakat untuk memakai dan membeli cincin batu akik. 
Ketidaktahuan masyarakat dan kesalahan informasi tentang jenis batu akik membuat beberapa masyarakat membeli batu akik sekedar ikut-ikutan sehingga asal-asalan saja mereka memilih dan membeli batu akik tersebut. Padahal ada beberapa pertimbangan membeli batu akik. Salah satu pertimbangan membeli batu akik adalah nilai harga jual dan keaslian batu akik. Apakah Anda bisa menilai batu tersebut asli atau palsu? Apakah Anda bisa menilai bahwa harga jual batu akik tersebut tetap, naik, atau turun atau bahkan tidak ada harganya? 
Beberapa jenis batu akik bisa dijadikan investasi sebagaimana emas dan berlian. Jika Anda berminat membeli batu akik pilihlah batu sejenis permata seperti safir, ruby, bacan karena harganya tetap bahkan bisa naik jika dijual kembali. Jangan membeli batu yang tidak bisa dijual kembali. Musim batu akik ternyata juga memberikan pelajaran bahwa memilih pemimpin pilihlah dengan pertimbangan yang benar tidak sekedar ikut-ikutan. Terlepas dari pencitraan media dan pro kontra hater/lover Jokowi beberapa voter Jokowi kemungkinan sebagai follower yang memilih bukan atas dasar petimbangan logis. Pilihlah pemimpin yang asli bukan pencitraan. 
Kecenderungan masyarakat adalah mengikuti apa yang banyak dilakukan dan dibicarakan orang bukan berdasarkan benar atau tidak yang dilakukan orang. Oleh sebab itu, agar kita tidak jadi menjadi manusia follower kita harus berprinsip benar atau tidaknya yang dilakukan bukan pada banyak sedikitnya orang yang melakukan atau membicarakannya.

Masukan Email Anda untuk Berlangganan Info Terbaru: